Tentang Hujan 1
Jangan pernah berkata; "aku suka hujan".
Tapi kau selalu menghindar saat hujan mendatangimu.
Rasa suka tidak seperti itu.
Dan jangan pernah berkata; "aku selalu jatuh cinta pada hujan".
Tapi kau sering merasa kesal saat hujan membasahimu.
Rasa cinta tidak seperti itu.
Tentang Hujan 2
Hanya hujan yang pandai menyimpan rasa.
Entah itu sedih, kecewa, ataupun bahagia,
Hanya dituangkan dalam satu warna.
Warna hujan.
Siapa sangka saat kita tersenyum bahagia karena hujan, saat itu warna hujan adalah kesedihan?
Tentang Hujan 3
Hujan tidak akan pernah datang dari tumpukan awan yang sama.
Saat ia jatuh di tempat lain, maka ia tidak akan pernah jatuh di tempatmu.
Tapi percayalah bahwa hujan lain sedang mempersiapkan dirinya, dan akan membasahi harapanmu.
"Tiap waktu yang terbatas memiliki kenangannya masing-masing. Menulis berarti mengekalkan kenangan." - Nanda Bayu
Selasa, 21 April 2015
Senin, 06 April 2015
Menyuarakan Kecemasan
Cemas..
Aku sedang cemas. Aku tak tahu kemana aku akan pergi. Aku juga tak tahu kemana aku harus pulang. Aku tak tahu apa yang bisa aku lakukan. Aku juga tak tahu apa yang harus aku lakukan.
Cemas..
Cemas..
Aku sedang cemas. Aku merasa rindu. Tapi aku tak tahu apa atau siapa yang aku rindukan. Aku tak tahu apa yang aku cari. Aku juga tak tahu siapa yang ingin aku temui.
Cemas..
Cemas..
Aku sedang cemas. Aku hanya tahu satu hal. Aku merasa sepi. Kemana aku harus mengadukan? Kemana aku harus menyuarakan kecemasanku, kecuali kepada Mu?
Tuhan, aku cemas..
Tuhan, aku cemas..
Jumat, 13 Maret 2015
Cerpen: Kotak Waktu
Pernah berpikir bisa mengendalikan waktu?
Mengatur-atur waktu sekehendak hatimu. Bisa pergi ke masa lalu maupun masa
depan. Menunda dan mengubah kejadian. Memperbaiki ataupun memperburuk keadaan.
Aku juga pernah berpikir seperti itu, ketika temanku berkata "Kau tahu hal
yang paling berharga itu apa?. Detik yang baru saja lewat."
Aku merasa tertikam dengan kalimat itu.
"Aku ingin punya kotak waktu"
"Maksudmu?"
"Aku ingin mengembalikan waktu!"
"Kenapa?"
"Aku baru saja melukai perasaan
seseorang"
Temanku itu tersenyum, diam. Aku tahu dia
sedang memikirkan sesuatu, mungkin mencari kalimat yang tepat untuk dikatakan.
Untuk menjelaskan.
"Jika aku punya benda yang kau sebut
kotak waktu itu, dengan senang hati aku akan memberikannya padamu. Tapi apa kau
bisa janji tidak akan menyakiti lagi? Tidak akan melukai?"
Lanjutnya.
"Kurasa tidak, karena kau akan lebih
suka menggunakan kotak waktu itu untuk setiap urusanmu. Kau akan terus
menyakiti. Maka biarlah waktu berjalan dengan semestinya. Kesalahan adalah
manusiawi. Tapi kita bisa belajar dari kesalahan itu, untuk lebih berhati-hati,
lebih menghargai, agar tidak menyakiti lagi."
Jelasnya.
Rabu, 11 Maret 2015
Maret
Langit
maret terlihat muram
Butir-butir
hujan masih berjatuhan
Menjelma
rindu
Menjelma
harapan
Pohon-pohon
menggigil kedinginan
Daun-daun
gugur dihantam hujan
Berharap
tak tumbang
Berharap
tak mati dalam penantian
Maret
masih hujan, kata pepohonan;
Kapan
musim semi datang?
Aku
rindu pelukan
Pelukan
yang menghangatkan
Maret
masih hujan, jawabku pelan;
Kau
masih harus menunggu
Aku
juga menunggu
Menunggu
siap memeluk harapanmu
Malang,
01 Maret 2015
Langganan:
Postingan (Atom)