Berapa
banyak kisah yang sudah kaudengar atau kaubaca tentang keterpisahan, tentang
cinta yang tak pernah tersatukan?
Romeo-Juliet,
Cleopatra-Antony atau Siti Nurbaya yang banyak orang berpendapat bahwa kisah
mereka begitu memilukan. Menurutku kisah mereka terlalu sederhana. Apa sulitnya
bunuh diri? Di mana rumitnya perjodohan?
Atau
kisah cinta Zainuddin-Hayati dalam roman Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck
karangan Hamka. Di mana keduanya sudah bersepakat namun karena berbeda adat,
salah di antaranya harus berhianat. Lantas siapa yang harus disalahkan?
Yang
pasti bukan jarak.
Ada
beberapa kisah cinta yang takluk oleh jarak. jarak tidak melulu soal ruang dan
waktu. Bisa juga tentang dinding tinggi yang membatasi hati.
Analogi
klasik tentang matahari yang mencintai bumi dengan jarak, bagiku itu hanya
pembenaran atas teori ketakberdayaan dalam mencintai. Kata Azhar Nurun Ala; Apa
yang bisa diharapkan, dari cinta yang bahkan oleh himpitan jarak saja jadi tak
berdaya?
Entahlah
apa matahari benar-benar mencintai bumi. Sebab jika memang demikian, dengan
abadinya keterjarakan di antara mereka seharusnya telah redup bara yang ia
miliki-tergenang air mata sendiri.
Jika
matahari benar-benar mencintai bumi, seharusnya majnun-lah ia. Seperti kisah
cinta dari negeri padang pasir. Qais yang cintanya tak pernah tersatukan lantas
ia menjadi majnun (gila), kemudian berkelana bersama air mata, berkawan dengan
binatang dan kata-kata, bersembunyi dalam ruang hampa yang menyiksa, sampai
akhirnya mati dengan begitu sepi.
Aku
bukan majnun.
Lantas
apa artinya cinta?
Menurut Anis
Matta cinta adalah memberi.
Menurut Dewi Lestari cinta adalah interaksi.
Menurut Dewi Lestari cinta adalah interaksi.
Aku
lebih bersepakat bahwa cinta adalah memberi. Kata Anis Matta lagi; ketika cinta
ditolak, yang ada hanyalah kesempatan memberi yang lewat.
Dan,
dengan ini aku ingin menyampaikan pesan melalui jarak: Kamu harus bahagia, meski tidak denganku. Namun kamu juga harus tahu, aku
benci mengatakan ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar