Jumat, 01 Desember 2017

Memiliki Rasa


Apa kamu tidak lelah?
Apa kamu tidak lelah berpura-pura seperti itu? Menjadi manusia kuat yang seolah mampu terus berjalan dengan tegap.

Seringkali pikiranmu terlalu angkuh, dengan meyakinkan hatimu bahwa ia baik-baik saja. Ia tidak boleh mengalirkan darahnya sehingga membuatmu meteskan air mata. Kamu membubuhi hatimu dengan nada-nada major, lagu-lagu riang, dan menyumbat aliran darahnya dengan kata-kata bijak.

Hei, dia adalah hati. Perlakukan ia selayaknya hati. Dan dengan hati-hati. 

Sekali waktu, ajak hatimu berdiskusi. Tekan egomu. Kehidupan yang sudah kamu jalani, situasi-situasi yang memaksamu untuk berpikir keras, dan buku-buku yang sudah kamu baca, tentunya telah mampu membuat pikiranmu lebih dewasa.

Hidup tidak harus baik-baik saja. Kesedihan, kemarahan, dan kekecewaan lah yang membuat kita menjadi manusia seutuhnya. Memiliki rasa.

Jadi tak apa, karena kita memang manusia biasa. Wajar untuk terluka, untuk tidak baik-baik saja. Dan wajar meneskan air mata.

Rabu, 25 Januari 2017

Ada Di Sana


Tuhan, hujan ini terlalu lebat
Hingga aku tak bisa melihat
Biarkan ia mereda
Sedikit saja tidak apa-apa

Tuhan, jalan ini terasa berat
Seperti membuka jendela berkarat
Beri aku sedikit tenaga
Menepikan ragu yang kian mendera

Tuhan, Harapan ini menyesakkan
Jika memang belum Kau ijinkan
Setidaknya tahan dia
Hingga aku ada di sana

__________________________________
Pict. From: cnnindonesia.com

Jumat, 11 November 2016

Menyapamu


Selamat pagi, cantik. Senyummu menggelayut merdu dalam desahan embun pagi.

Ah, aku selalu saja ingin mengucapkan selamat pagi padamu. Pertama kali. Ketika kau membuka mata setelah terlepas dari mimpi-mimpi yang meguasai tidurmu.

Selamat pagi.
Sebenarnya sudah kuucapkan kalimat itu berkali-kali, berpagi-pagi. Kepadamu. Melalui angin, melalui embun, melalui matahari, dan tulisan seperti ini.

Pernahkah kau sadari?
Berharap suatu saat akan kau dengar suaraku ini melalui embusan angin yang menepuk lembut pipimu, atau aroma tanah basah di pekarangan rumahmu.

Selamat pagi, cantik. Coba lihat ke luar jendela kamarmu. Cahaya itu, seperti lekungan manis di wajahmu.

Aku bukan pecundang atau pendiam yang tak berani langsung menyapamu. Hanya saja, matamu selalu menikamku lebih dulu. Semua kata yang sudah kususun rapi telah menguap begitu saja, seperti embun tertimpa matahari.

Matamu.
Tatap lembut yang berkeretap bagai cermin yang memantulkan warna langit. Kebiru-biruan. Biru langit waktu subuh. Mata yang di dalamnya aku mampu melihat segalanya. Kecuali AKU.

Adakah aku di matamu?


Sidoarjo, 10 November 2016
______________________________________________
Pict From: www.wisegeek.org

Jumat, 02 September 2016

Hujan Lain

Malam yang cerah – terlalu cerah untuk berbicara tentang hujan. Namun hujan kali ini bukan berupa air, yang sebagian orang bisa menikmatinya dan sebagian lagi hanya mendapat basahnya saja. Hujan bisa berupa apa saja. Seseorang pernah berkata “Karena hujan tak selalu air, bisa juga ia berupa rindu”, dan mungkin kalian juga memiliki hujan kalian sendiri yang entah itu berupa apa.
Malam yang cerah. Mungkin kata “cerah” menjadi tabu jika disandingkan dengan kata “malam”, tapi bukankah cerah tidak selalu berarti penuh cahaya? dan malam ini begitu menyenangkan karena bintang-bintang tidak berselimut kabut, dan cahaya rembulan menerpa wajah dengan lembut.
Sebenarnya meskipun malam berlangsung dengan hujan lebat dan badai sekalipun, bagiku malam tetap saja menyenangkan. Sebut saja aku Nyctophilia, seorang yang merasa nyaman berada dalam gelap – malam.
Namun cerita kali ini bukan tentangku, kelihatannya saja seperti itu. Ini adalah cerita percakapan antara seorang laki-laki dan seorang perempuan melalui Short Message Service. Tentang hujan.

Perempuan
 “Langit menawan, di sana ada lekungan senyum pelangi. Karena hujan baru saja berakhir dan mentari membiaskan cahayanya. Jika tidak semua hujan adalah hujan air, bisa saja Hujan Rindu. Maka yang terjadi di sini kusebut Hujan Harapan. Karena di sini hujan hanya menggoda tanah gersang dengan mendung dan gerimis sesaatnya. Tanah gersang berkata; Hujan yang di sana kapan menghujaniku?”

Status: Message was delivered

Laki-laki
 “Hujan Harapan. Mungkin hanya tanah gersang itu yang akan mengerti rasanya terus-terusan menunggu, dihampiri, kemudian ditinggal pergi. Namun semua itu bukan hanya perkara menunggu, karena ketika menunggu sesungguhnya ia sedang belajar keteguhan hati.”

Status: Message was delivered

Perempuan
“Hujan Harapan, mengisyaratkan belajar hati-hati menaruh harap. Bagai daun-daun yang gugur pasrah dihempas angin, berharap jatuh di tempat yang sama. Meski sulit, tapi itu mudah bagi Tuhan.”

Status: Message was delivered

Laki-laki
 “Kau harus tahu, bahwa hujan tidak akan pernah datang dari tumpukan awan yang sama. Saat ia jatuh di tempat lain, maka ia tidak akan pernah jatuh di tempatmu. Tetapi percayalah bahwa ada hujan lain yang sedang mempersiapkan dirinya, dan akan membasahi harapanmu.”

Status: Message was delivered

Tidak ada balasan.

Laki-laki
“Bagaimana jika hujan lain itu adalah aku?”

Status: Save in Drafts
_________________________________
Pict from: teodor24.wordpress.com