Jumat, 11 November 2016

Menyapamu


Selamat pagi, cantik. Senyummu menggelayut merdu dalam desahan embun pagi.

Ah, aku selalu saja ingin mengucapkan selamat pagi padamu. Pertama kali. Ketika kau membuka mata setelah terlepas dari mimpi-mimpi yang meguasai tidurmu.

Selamat pagi.
Sebenarnya sudah kuucapkan kalimat itu berkali-kali, berpagi-pagi. Kepadamu. Melalui angin, melalui embun, melalui matahari, dan tulisan seperti ini.

Pernahkah kau sadari?
Berharap suatu saat akan kau dengar suaraku ini melalui embusan angin yang menepuk lembut pipimu, atau aroma tanah basah di pekarangan rumahmu.

Selamat pagi, cantik. Coba lihat ke luar jendela kamarmu. Cahaya itu, seperti lekungan manis di wajahmu.

Aku bukan pecundang atau pendiam yang tak berani langsung menyapamu. Hanya saja, matamu selalu menikamku lebih dulu. Semua kata yang sudah kususun rapi telah menguap begitu saja, seperti embun tertimpa matahari.

Matamu.
Tatap lembut yang berkeretap bagai cermin yang memantulkan warna langit. Kebiru-biruan. Biru langit waktu subuh. Mata yang di dalamnya aku mampu melihat segalanya. Kecuali AKU.

Adakah aku di matamu?


Sidoarjo, 10 November 2016
______________________________________________
Pict From: www.wisegeek.org

Jumat, 02 September 2016

Hujan Lain

Malam yang cerah – terlalu cerah untuk berbicara tentang hujan. Namun hujan kali ini bukan berupa air, yang sebagian orang bisa menikmatinya dan sebagian lagi hanya mendapat basahnya saja. Hujan bisa berupa apa saja. Seseorang pernah berkata “Karena hujan tak selalu air, bisa juga ia berupa rindu”, dan mungkin kalian juga memiliki hujan kalian sendiri yang entah itu berupa apa.
Malam yang cerah. Mungkin kata “cerah” menjadi tabu jika disandingkan dengan kata “malam”, tapi bukankah cerah tidak selalu berarti penuh cahaya? dan malam ini begitu menyenangkan karena bintang-bintang tidak berselimut kabut, dan cahaya rembulan menerpa wajah dengan lembut.
Sebenarnya meskipun malam berlangsung dengan hujan lebat dan badai sekalipun, bagiku malam tetap saja menyenangkan. Sebut saja aku Nyctophilia, seorang yang merasa nyaman berada dalam gelap – malam.
Namun cerita kali ini bukan tentangku, kelihatannya saja seperti itu. Ini adalah cerita percakapan antara seorang laki-laki dan seorang perempuan melalui Short Message Service. Tentang hujan.

Perempuan
 “Langit menawan, di sana ada lekungan senyum pelangi. Karena hujan baru saja berakhir dan mentari membiaskan cahayanya. Jika tidak semua hujan adalah hujan air, bisa saja Hujan Rindu. Maka yang terjadi di sini kusebut Hujan Harapan. Karena di sini hujan hanya menggoda tanah gersang dengan mendung dan gerimis sesaatnya. Tanah gersang berkata; Hujan yang di sana kapan menghujaniku?”

Status: Message was delivered

Laki-laki
 “Hujan Harapan. Mungkin hanya tanah gersang itu yang akan mengerti rasanya terus-terusan menunggu, dihampiri, kemudian ditinggal pergi. Namun semua itu bukan hanya perkara menunggu, karena ketika menunggu sesungguhnya ia sedang belajar keteguhan hati.”

Status: Message was delivered

Perempuan
“Hujan Harapan, mengisyaratkan belajar hati-hati menaruh harap. Bagai daun-daun yang gugur pasrah dihempas angin, berharap jatuh di tempat yang sama. Meski sulit, tapi itu mudah bagi Tuhan.”

Status: Message was delivered

Laki-laki
 “Kau harus tahu, bahwa hujan tidak akan pernah datang dari tumpukan awan yang sama. Saat ia jatuh di tempat lain, maka ia tidak akan pernah jatuh di tempatmu. Tetapi percayalah bahwa ada hujan lain yang sedang mempersiapkan dirinya, dan akan membasahi harapanmu.”

Status: Message was delivered

Tidak ada balasan.

Laki-laki
“Bagaimana jika hujan lain itu adalah aku?”

Status: Save in Drafts
_________________________________
Pict from: teodor24.wordpress.com

Rabu, 13 Juli 2016

Langkah

Terus saja aku melangkah
Langkah ini belumlah jauh
Atau malah sudah terlalu jauh
Aku hanya tidak tahu
Sedari kapan aku mulai melangkah

Jalanan berliku itu sudah kususuri
Tanjakan terjal itu telah kutapaki
Pernah jatuh dalam sumur kebingungan
Pada persimpangan
Aku tetap melangkah

Sudah sejauh apa aku melangkah
Aku tidak tahu
Yang  kutahu setiap langkahku
Adalah untuk menujumu
Aku menujumu

Sabtu, 25 Juni 2016

Aku Bukan Majnun


Berapa banyak kisah yang sudah kaudengar atau kaubaca tentang keterpisahan, tentang cinta yang tak pernah tersatukan?

Romeo-Juliet, Cleopatra-Antony atau Siti Nurbaya yang banyak orang berpendapat bahwa kisah mereka begitu memilukan. Menurutku kisah mereka terlalu sederhana. Apa sulitnya bunuh diri? Di mana rumitnya perjodohan?

Atau kisah cinta Zainuddin-Hayati dalam roman Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck karangan Hamka. Di mana keduanya sudah bersepakat namun karena berbeda adat, salah di antaranya harus berhianat. Lantas siapa yang harus disalahkan?

Yang pasti bukan jarak.

Ada beberapa kisah cinta yang takluk oleh jarak. jarak tidak melulu soal ruang dan waktu. Bisa juga tentang dinding tinggi yang membatasi hati.

Analogi klasik tentang matahari yang mencintai bumi dengan jarak, bagiku itu hanya pembenaran atas teori ketakberdayaan dalam mencintai. Kata Azhar Nurun Ala; Apa yang bisa diharapkan, dari cinta yang bahkan oleh himpitan jarak saja jadi tak berdaya?

Entahlah apa matahari benar-benar mencintai bumi. Sebab jika memang demikian, dengan abadinya keterjarakan di antara mereka seharusnya telah redup bara yang ia miliki-tergenang air mata sendiri.

Jika matahari benar-benar mencintai bumi, seharusnya majnun-lah ia. Seperti kisah cinta dari negeri padang pasir. Qais yang cintanya tak pernah tersatukan lantas ia menjadi majnun (gila), kemudian berkelana bersama air mata, berkawan dengan binatang dan kata-kata, bersembunyi dalam ruang hampa yang menyiksa, sampai akhirnya mati dengan begitu sepi.

Aku bukan majnun.

Lantas apa artinya cinta?
Menurut Anis Matta cinta adalah memberi.
Menurut Dewi Lestari cinta adalah interaksi.
Aku lebih bersepakat bahwa cinta adalah memberi. Kata Anis Matta lagi; ketika cinta ditolak, yang ada hanyalah kesempatan memberi yang lewat.
Dan, dengan ini aku ingin menyampaikan pesan melalui jarak: Kamu harus bahagia, meski tidak denganku. Namun kamu juga harus tahu, aku benci mengatakan ini.